Pendidikan di POMOSDA tidak hanya berfokus pada ilmu agama, tetapi juga pada aspek aplikatif. Romo Kiai menekankan bahwa santri yang hanya pintar dalam memahami dalil tetapi tidak bisa mengaplikasikannya di kehidupan nyata adalah suatu hal yang berbahaya. Oleh karena itu, sistem pelatihan keterampilan diterapkan dengan memanfaatkan wali santri, praktisi di berbagai bidang, serta relasi dengan para ahli komoditas tertentu. Pendekatan ini dilakukan secara sederhana dan tidak membutuhkan biaya besar, tetapi sangat efektif dalam membangun keterampilan santri.
Pada Jumat, 21 Februari 2025, pagi yang cerah menyambut rombongan dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Banten dan Kantor Perwakilan BI Kediri saat tiba di Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa (POMOSDA). Sebanyak 20 orang dari BI Banten dan 5 orang dari BI Kediri disambut dengan penuh kehangatan di Pendopo Ndalem, lokasi utama penyambutan. Wajah-wajah penuh antusias menghiasi rombongan yang datang dengan niat mendalami ekosistem kemandirian pangan di lingkungan pesantren.
BI Banten dalam studi banding ini melibatkan empat pondok pesantren dari wilayahnya, yaitu Ponpes Al Markaz, Ponpes Pagipon, Ponpes Darul Iman, dan Ponpes Nur El-Falah. Pada sesi sambutan, perwakilan BI Banten, Pak Haryo Pamungkas, menjelaskan bahwa BI Banten telah berdiri sejak tahun 2008 dan mulai aktif dalam pembinaan UMKM serta pesantren pada tahun 2017. Beliau menyoroti pentingnya membangun ekosistem pangan yang berkelanjutan, proses pembentukannya, serta pihak-pihak yang turut berkontribusi dalam pengembangannya. Selain itu, mereka juga ingin mengetahui apakah terdapat dukungan dari pemerintah Jawa Timur terkait pengembangan pesantren melalui program seperti Hebitren Jatim.
Sambutan dan Pemaparan oleh Romo Kiai
Dalam sambutannya, Romo Kiai menegaskan pentingnya keseimbangan antara ibadah dan kemandirian ekonomi. Beliau mengutip perintah sholat "Aqimisholah" sebagai pengingat bahwa setiap individu harus menjaga hubungan spiritual dengan Allah. Namun, tidak hanya itu, beliau juga menekankan perintah kemandirian sebagaimana termaktub dalam "Kalla lamma yaqdli maa amaroh", yang mengajarkan pentingnya menunaikan tugas yang telah diperintahkan Allah, termasuk dalam aspek ekonomi dan keberlanjutan hidup.
Lebih lanjut, Romo Kiai menyoroti bagaimana negara kita telah dijajah dari berbagai arah, namun diskusi yang terjadi di kalangan umat sering kali hanya berfokus pada persoalan fiqih tanpa membahas aspek kemandirian ekonomi. Beliau mengajak seluruh pihak untuk lebih memperhatikan aspek kemandirian, khususnya dalam sektor pangan.
Pondok Modern Sumber Daya At-Taqwa (POMOSDA) menjadi salah satu contoh konkret dalam menerapkan sistem kemandirian. Tanpa libur dan tetap beraktivitas selama pandemi tanpa menggunakan masker, santri di pondok ini tetap sehat berkat konsumsi makanan organik yang terjamin kualitasnya. Seluruh bahan pangan, seperti tempe, tahu, dan beras, berada dalam kontrol dan binaan pondok, baik melalui wali santri maupun masyarakat sekitar.
Sistem yang diterapkan melibatkan jimpitan, di mana setiap wali santri berkontribusi dengan membawa benih dan memberikan laporan perkembangan tanaman yang dikelola di rumah masing-masing. Setiap santri memiliki satu polibag tanaman yang harus dirawat, dan hasil panennya dikumpulkan setiap selapan sekali. Prinsip ini mengajarkan santri untuk tidak bergantung pada pasar dan membangun ekosistem pangan yang mandiri.
Ekosistem Kemandirian Pangan
Ekosistem pangan mandiri di POMOSDA berawal dari kebutuhan pondok itu sendiri. Dengan kebutuhan beras mencapai 21 ton per bulan, lahan yang tersedia hanya mampu memenuhi 6 ton. Untuk mencukupi kebutuhan ini, pondok melakukan pembinaan dan pendekatan dengan masyarakat serta kelompok tani, baik di Nganjuk, luar Nganjuk, hingga Jawa Barat. Bahkan, POMOSDA pernah memiliki binaan di Banten dengan luas lahan 160 hektar untuk beberapa komoditi, termasuk talas beneng. Kini, binaan tersebut telah bergeser ke daerah Banyuwangi dan Jember.
POMOSDA juga telah merintis ekspor edamame ke Korea, Jepang, dan Taiwan. Namun, setelah melihat potensi pasar lokal yang masih kekurangan, sebagian besar produksi akhirnya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan domestik, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Saat ini, produksi masih berada di angka 6 ton dari total kebutuhan pasar sebesar 47 ton.
Dukungan dari Bank Indonesia dan Pemerintah
Dukungan dari Bank Indonesia sangat dirasakan oleh POMOSDA, terutama dalam aspek teknologi otomasi pengairan yang diterapkan di lingkungan pesantren. Selain itu, pondok juga memiliki tim utama dan tim cadangan yang terdiri dari santri dengan pengalaman dalam bidang pertanian.
Di sisi lain, pemerintah Jawa Timur juga turut memberikan dukungan melalui program One Pesantren One Product (OPOP). Gerakan ini mendorong penguatan dana swadaya dan sistem koperasi berbasis saham, sehingga pesantren dapat mengembangkan unit usahanya secara mandiri.
Pendidikan dan Pelatihan Keterampilan
Pendidikan di POMOSDA tidak hanya berfokus pada ilmu agama, tetapi juga pada aspek aplikatif. Romo Kiai menekankan bahwa santri yang hanya pintar dalam memahami dalil tetapi tidak bisa mengaplikasikannya di kehidupan nyata adalah suatu hal yang berbahaya. Oleh karena itu, sistem pelatihan keterampilan diterapkan dengan memanfaatkan wali santri, praktisi di berbagai bidang, serta relasi dengan para ahli komoditas tertentu. Pendekatan ini dilakukan secara sederhana dan tidak membutuhkan biaya besar, tetapi sangat efektif dalam membangun keterampilan santri.
Dengan berbagai langkah ini, POMOSDA terus menjadi contoh bagaimana pesantren bisa menjadi pusat pendidikan yang tidak hanya mencetak ulama, tetapi juga menciptakan individu yang mandiri dan berkontribusi bagi masyarakat luas.
field trip di Bidang Perikanan yang di kelola oleh POMOSDA
Setelah sesi pembukaan dan diskusi mengenai ekosistem pertanian, peserta studi banding diajak untuk mengunjungi lokasi budidaya perikanan di Tim Japo Fish & Edu, Desa Tanjungkalang, Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Di sini, mereka disambut dengan paparan mengenai prinsip dasar budidaya lele dan sistem pengelolaannya.
Para peserta melihat secara langsung bagaimana pesantren menerapkan sistem budidaya lele mulai dari tahap inisiasi hingga produksi mandiri. Standar produksi yang diterapkan sesuai dengan kebutuhan agregator, memastikan bahwa hasil budidaya memenuhi standar pasar yang lebih luas.
Diskusi, Tanya Jawab, dan Penutupan
Setelah kunjungan lapangan, sesi diskusi dan tanya jawab menjadi ajang berbagi wawasan lebih dalam mengenai tantangan serta peluang dalam ekosistem pangan pesantren. Para peserta mengajukan berbagai pertanyaan, seperti durasi pengembangan ekosistem pangan halal, pihak-pihak yang terlibat dalam sistem ini, serta sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung program kemandirian pangan.
Diskusi berlangsung interaktif, di mana pihak pesantren memberikan jawaban yang memperkaya pemahaman peserta. Setelah sesi tanya jawab, acara resmi ditutup dengan ucapan terima kasih dari perwakilan rombongan kepada pihak pesantren yang telah bersedia berbagi ilmu dan pengalaman.
Kesimpulan
Studi banding ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana pesantren dapat menjadi pusat kemandirian ekonomi dan pangan. Dari sektor pertanian hingga perikanan, POMOSDA telah membuktikan bahwa pesantren mampu membangun ekosistem yang tidak hanya memenuhi kebutuhan internal, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang lebih luas.
Dengan adanya inisiatif seperti ini, pesantren tidak lagi hanya menjadi tempat menimba ilmu agama, tetapi juga menjadi laboratorium kehidupan yang menciptakan kemandirian dan kesejahteraan bagi seluruh komunitasnya. Keberhasilan ekosistem ini juga menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi model pengembangan ekonomi berbasis komunitas yang mandiri dan berkelanjutan, memberikan inspirasi bagi pesantren lain di Indonesia untuk mengembangkan konsep serupa.
Layanan konsultasi kemandirian pangan:
Pertanian : Bpk. Agus Kurniawan 0812-3444-1948
Tabulampot : Bpk. Amam Bahrudin 0852-3568-8293
Peternakan : Bpk. Irawan Arifianto Wardhana 0813-3311-9729
Perikanan : Bpk. Nur Kholiq 0812-3319-3972