MAKNA HAKIKAT DI BALIK SLOGAN PENDIDIKAN NASIONAL

OPINI BAIK | 2021-05-03 05:14:43

MAKNA HAKIKAT DI BALIK SLOGAN PENDIDIKAN NASIONAL

Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, memperkenalkan slogan tiga pilar pendidikan nasional. Ada pula yang mengenal dengan istilah trilogi pendidikan. yaitu Ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani.

Banyak di antara kita yang hafal di luar kepala slogan pendidikan tersebut. Namun, hafal saja ternyata tidak cukup karena slogan tersebut dibuat tidak hanya untuk dihafalkan. Lebih dari itu ada harapan untuk memahami filosofi di balik slogan tersebut. Paling tidak bagi tenaga pendidik.

Ing ngarso sung tulodho artinya yang di depan memberi contoh. Siapakah orang yang di depan itu? Karena ini adalah slogan pendidikan, mari kita tengok kehidupan di sekolah pada umumnya. Di dalam satu kelas biasanya terdapat sekitar tiga puluh dua siswa dan satu guru. Guru berada di depan karena biasanya meja guru diletakkan di depan.

Artinya, di depan siswa ada satu guru dan di depan guru ada tiga puluh dua siswa. guru sebagai sumber belajar bagi siswa. sebaliknya sejumlah tiga puluh dua siswa adalah sumber belajar bagi guru. Ada timbal balik dari kedua belah pihak. Istilahnya give and take.

Seandainya di dalam diri seorang guru tidak tercipta mindset tersebut, tentu guru atau pengajar tersebut tidak akan mendapat apa pun dari murid-muridnya. Merasa menjadi superior di dalam kelas yang tahu segalanya. Padahal di zaman sekarang apa pun dan siapa pun bisa menjadi sumber belajar. Paradigma usang itu harus segera dibuang sejauh-jauhnya dari dalam diri seorang pendidik.

Mindset Ing ngarso sung tulodho seyogyanya dimiliki oleh setiap diri. Apa pun profesinya. Apa saja atau siapa saja yang ada di hadapannya dijadikan guru, dalam hal ini adalah sumber belajar. Everything is a teacher and every place is a school. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di sekeliling kita adalah ayat-ayat nyata yang mengandung pelajaran dalam meniti kehidupan.

Semua pasti setuju bahwa setiap orang mempunyai kelemahan dan kelebihan. Dalam hal ini kita konsentrasi pada kelebihannya saja untuk dijadikan tulodho atau contoh nyata. Karakter orang yang berbeda-beda itu bisa dijadikan sumber belajar secara nyata. Belajar mengerti dan memahami orang lain dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Filosofi lain dari Ing ngarso sung tulodho adalah belajar sepanjang hayat atau long live education. Konsep ini seharusnya melekat kuat atau mendarah daging pada setiap orang. Belajar tidak terbatas hanya di kelas saja. Seperti membaca, menulis, menggambar, menghafal, menghitung, berbicara yang biasanya dilakukan di kelas konvensional.

Lebih dari itu belajar sesungguhnya adalah mengembangkan potensi asam’ah, al absor, wal af’idah. Menyimak, melihat, dan bernalar. Menyimak itu tidak sekadar mendengar. Dalam KBBI menyimak artinya mendengarkan (memperhatikan) baik-baik apa yang diucapkan atau dibaca orang. Di dalam kegiatan menyimak ada keterlibatan pikiran dan hati. Ada keseriusan dan konsentrasi terhadap apa yang disampaikan.

Menyimak juga berarti menghargai orang yang berbicara, siapa pun dia. Belajar tak terbatas hanya pada mereka yang lebih tua secara usia atau kepada mereka yang bergelar akademik semata. Belajar bisa juga dilakukan kepada anak-anak atau mereka yang masih belia.

Alam sekitar kita adalah laboratorium raksasa yang disiapkan oleh Allah untuk tempat belajar kita. Kita bisa belajar dari sistem yang berjalan teratur sesuai kehendak-Nya. Apa saja yang tampak mata, yang terdengar oleh telinga, dan terserap oleh pikiran dapat kita manfaatkan untuk meningkatkan kualitas diri menjadi manusia seutuhnya. Manusia yang sesuai dengan kehendak-Nya melalui utusan-Nya.

Kembali pada slogan pendidikan yang pertama tadi ing ngarso sung tulodho. Yang di depan memberi teladan atau contoh. Teladan berarti uswah. Perilaku uswah adalah perilaku kebaikan yang sesuai dengan tutunan agama. Kita tahu uswah hasanah umat Islam adalah Rasulullah SAW. Namun, yang perlu disadari bahwa Rasul Muhammad berperilaku bukan karena pencitraan agar dilihat umatnya.

Perilaku uswah adalah kebutuhan dan kemestian setiap orang.

Dilihat atau tidak, diawasi atau tidak, diperhatikan atau tidak seyogyanya setiap orang berperilaku uswah. Orang yang berperilaku uswah ucapannya damai-mendamaikan, perbuatannya selamat dan menyelamatkan. Secara otomatis akan bergerak, beraktivitas memberdayakan potensi diri. Bekerja secara profesional di bidang garapannya masing-masing. keprofesionalan mereka tidak semu karena dimonitor atasannya.

Pilar pendidikan yang kedua adalah ing madyo mangun karso. Madyo artinya tengah. Yang dimaksud adalah tengah dada. Di dalam dada ada sebuah hati yang bernama nurani. Hati nurani adalah hati yang selalu bercahaya karena disinari oleh Tuhan. Hati yang bersinar menjadikan pemiliknya tidak gelap mata dan gelap hati. Dia akan bertindak hati-hati dan waspada. Dia akan bertindak dan beraktivitas karena Allah semata. Hal ini masih berhubungan dengan pilar pertama.

Sedangkan mangun artinya mengairi. Mengairi adalah proses kesengajaan memberi air. Yang diairi adalah karsa. Karsa adalah kemauan yang kuat. Kemauan yang kuat itu diairi oleh hati nurani agar tumbuh subur berkembang dan berbuah. Menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak. Artinya kita diajak untuk menjadi pribadi yang produktif.

Seseorang yang memiliki karsa tindakannya tidak dak-nyeng atau hangat-hangat tahi ayam. Apa yang dikerjakan bukan euforia semata, tidak mencari ketenaran. Bekerjanya tidak karena seseorang tapi semata-mata li ‘ilaai kalimatillah. Apa yang dilakukan berdasarkan potensi yang dimiliki yang dilatih dan diasah.

Pilar yang ketiga adalah Tut wuri handayani. Tut bisa diartikan ngetut atau mengikut. Siapa yang diikuti? Dawuh Gurunya. Setiap diri adalah murid, bahkan Nabi Muhammad Saw juga seorang murid. Murid berasal dari bahasa Arab yang artinya orang yang berkehendak bertemu dengan Tuhannya. Sebagai seorang murid, Nabi Muhammad juga mempunyai Guru yaitu Malaikat Jibril yang menunjukkan jati diri Tuhan yang wajib dikenali wujudnya.

Sedangkan wuri artinya menjaga, melestarikan, merawat, dan meruwat. Empat kata tersebut termasuk dalam kata kerja aktif. Ini artinya manusia diperintahkan untuk aktif melakukan sesuatu. Memberdayakan potensi yang sudah diberikan Allah kepadanya. Bergerak dan berusaha tanpa kenal kata menyerah. Yakin, sekecil apa pun usaha yang dilakukan tidak akan sia-sia.

Sedangkan handayani berasal dari kata daya yang berarti kekuatan. Maksudnya, manusia tidak punya daya kekuatan kalau tidak bersama dengan Tuhannya. Jika tidak di dalam cakupan Tuhan, manusia hanyalah seonggok daging yang tidak bisa apa-apa dan tdak punya apa-apa. Namun, banyak sekali yang tidak menyadari kehadiran Tuhan dalam dirinya. tidak menyadari dikarenakan tidak mengenali fitrah jati diri yang berasal dari fitrah Tuhannya. Hal ini menyebabkan pengakuan merasa hebat, pintar, dan sebagainya.

Di hari pendidikan nasional ini mari berintrospeksi diri. Sudahkah kita menjalankan slogan pendidikan yang sudah diamanatkan oleh Ki Hajar Dewantara?

Penulis : Husnun Nadhifah